8.8.08

Self Contemplation

Sudah berapa lama kita hidup namun sudah berapa lama kita sadar kalau ibadah yang kita lakukan karena satu dan banyak hal, bukan sebagai wujud murni dari suatu kepatuhan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Musibah, bencana, keinginan dan harapan membuat kita begitu dekat denganNya. Namun ketika kesulitan hilang dan harapan terwujud, akankah aktivitas itu tetap ada. Ibadah yang tak pernah lepas dan munajat yang tak pernah henti.

Ibadah yang dijalani hanya berorientasi pada harapan untuk menghuni indahnya surga tanpa mengenal neraka, tidak salah memang. Namun cukup egois.

Seandainya setelah kematian tidak ada kehidupan (pembalasan), atau seaindainya para hamba yang patuh ditempatkan di neraka. Masihkah kita ingat terhadapNya, Dzat yang tak pernah sedetikpun lupa memberi nafas hingga tiba waktunya.

Semakin sadar, semakin kita mencoba untuk menghindar dari sebuah kepasrahan akan ketetapanNya. Menolak akan semua hal terburuk yang kita dapatkan, meskipun itu yang terbaik menurutNya.

*Bukan berkhutbah, hanya bermaksud untuk berbenah diri*

11.7.08

Kemarin, hari ini, dan esok

Hari ini adalah hari esok yang kucemaskan kemarin
Dan hari ini cerah sekali
Hingga aku bertanya-tanya mengapa aku mencemaskan hari ini kemarin
Maka hari ini aku tidak akan mencemaskan esok
Lagi pula, mungkin tidak akan ada esok
Maka hari ini aku akan hidup seolah esok tak ada
Dan aku akan melupakan kemarin

Hari ini adalah hari esok yang kurencanakan kemarin
Dan hampir semua rencanaku untuk hari ini tidak berjalan seperti yang kukira kemarin
Maka hari ini aku akan melupakan esok dan aku akan merencanakan hari ini
Tetapi tidak terlalu habis-habisan
Hari ini aku akan berhenti untuk mencium sekuntuk mawar
Aku akan mengatakan kepada orang yang kucintai betapa aku mencintainya
Aku akan berhenti merencanakan esok dan bencana untuk menjadikan hari ini hari terbaik dalam hidupku

Hari ini adalah hari esok yang kutakutkan kemarin
Dan hari ini ternyata tidak ada yang harus ditakutkan
Maka hari ini akan kuenyahkan rasa takut akan hal-hal yang tak kuketahui
Aku akan merangkul yang tak kuketahui itu sebagai pengalaman belajar yang penuh dengan kesempatan seru
Hari ini, tidak seperti kemarin, aku tidak akan menakutkan esok

Hari ini adalah hari esok yang kuimpikan kemarin
Dan sebagian mimpi yang kuimpikan kemarin jadi kenyataaan hari ini
Maka hari ini aku akan terus memimpikan esok
Dan mungkin lebih banyak lagi mimpi yang kuimpikan hari ini akan jadi kenyataan esok.


-Anonim, taken from Satu Tiket ke Surga, written by Zabrina A. Bakar-

25.6.08

Sajak-sajak Kecil tentang Cinta - Sapardi Djoko Damono

mencintai angin harus menjadi siut,
mencintai air harus menjadi ricik,
mencintai gunung harus menjadi terjal,
mencintai api harus menjadi jilat,
mencintai cakrawala harus menebas jarak,
mencintaimu harus menjelma menjadi aku.

“Hujan Bulan Juni”
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu,

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu,

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

DI RESTORAN

Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput, kau entah memesan apa.
Aku memesanbatu di tengah sungai terjal yang deras, kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

AT THE RESTAURANT
It was just the two of us, sitting.
I ordered waving grasses and wild flowers, I don't know what you ordered.
I ordered stones on a bed of swirling rapids, I don't know what you ordered.
But it was just the two of us, sitting.
I ordered pitiless and piercing painthen ordered,
as well, that alien hunger.
--====--
*Untuk diri, that feel something different, they called it's LOVE