10.1.11

Nasionalisme Dan Sepakbola Indonesia

Ketika wacana nasionalisme mewarnai persepakbolaan Indonesia...

Apakah ada keterkaitan langsung antara nilai nasionalisme dan prestasi sepakbola sebuah bangsa?

Bagi pandangan universialis, nasionalisme adalah paham yang mulai digerogoti zaman. Pakar ilmu sosial politik Anthony Giddens pernah menyebutkan, begitu era Perang Dingin usai muncul era posmodern dengan persekutuan regional sebagai salah satu penanda yang paling signifikan.

Muncul lah Uni Eropa. Perbatasan (frontier) mulai terhapus dan melahirkan batasan (border). Secara fisik, garis perbatasan antarnegara sudah menghilang dan hanya ada batasan yang sulit dinilai secara kasat mata.

Di dunia sepakbola, Uni Eropa melahirkan sebuah kebijakan yang tak pernah terbayangkan generasi paman kita: Dekrit Bosman. Setelah 1995 sepakbola Eropa tergopoh-gopoh mengadopsi definisi baru tentang "pemain asing". Berdasarkan peraturan yang bermula karena sengketa antara seorang pemain Belgia dan klubnya itu, status pemain asing tidak lagi sekadar dinilai berdasarkan paspornya. Pemain dari negara anggota Uni Eropa bebas mencari nafkah di sesama negara anggota. Proteksi runtuh, pemain asing -- asal negara Uni Eropa maupun bukan -- pun membanjiri kompetisi Eropa.

Nasionalisme atau paham kebangsaan serupa barang semu. Tidak berbentuk dan hanya ada di dalam benak kepala orang banyak. Benedict Anderson mengatakan, bangsa-bangsa adalah komunitas yang dibentuk secara sosial dan diciptakan dalam persepsi mereka yang berada di dalamnya. Prinsip kebangsaan ini mendapat tempat lebih luas secara politis ketika orang membentuk negara.

Sepakbola turut memberikan ruang atas terjadinya persaingan antarbangsa atau antarnegara salah satunya melalui sistem kejuaraan yang dikenal sejak olahraga si kulit bulat ini mewabah secara global.

Dalam ruang yang paling kecil terjadi ketika Indonesia berpartisipasi di AFF Suzuki Cup 2010 lalu. Kebetulan atau tidak, Indonesia mengawali turnamen sekaligus mengakhirinya dengan menghadapi Malaysia. Hubungan Indonesia dan Malaysia tak ubahnya seperti dua negara tetangga lain di dunia. Saling cela, saling bersaing, saling cemburu, tetapi sebenarnya saling membutuhkan.

Malaysia dalam banyak hal sebenarnya mengagumi Indonesia. Dalam sebuah percakapan dengan seorang teman dari negara jiran itu di Kuala Lumpur dua pekan lalu, generasi muda Malaysia sebenarnya mengakui keunggulan berbagai produk budaya Indonesia. Sayangnya, Indonesia tidak memandang fenomena itu sebagai sebuah hegemoni melainkan menganggapnya sebagai produk yang eksklusif.

Tapi, di lapangan sepakbola Malaysia berhasil mengungguli Indonesia dalam dua pertemuan. Jika masyarakat Indonesia merayakan pencapaian timnas di AFF Suzuki Cup dengan gegap gempita, begitu pula dengan masyarakat Malaysia. Jika kepentingan politik Indonesia menempatkan sepakbola di pentas utama, begitu pula halnya dengan Malaysia. Sebabnya sepakbola dianggap berhasil menggelembungkan sikap nasionalisme sepanjang turnamen digelar.

Nasionalisme yang sudah ditinggalkan kalangan posmodernis tetap menjadi barang penting bagi negara dunia ketiga seperti Indonesia dan Malaysia. Jika menilik teori modernisasi Anthony Giddens, entah berada di tahap berapa Indonesia sekarang ini. Bukan negara primordial yang feodalis, tetapi tidak jua lepas landas. Kesadaran manusia, demikian Karl Marx suatu ketika, tergantung pada alat produksi yang dipakainya. Bagi Marx, kesadaran manusia sangat diperlukan demi sebuah kemajuan. Indonesia dan Malaysia, selama AFF Suzuki Cup, ternyata menuju "kemajuan" yang berbeda.

Di Malaysia dewasa ini, kebangsaan adalah isu penting. Dalam setahun terakhir Pemerintah rajin mempropagandakan kampanye "1Malaysia", yang bertujuan menyatukan berbagai rumpun budaya -- terutama tiga etnis besar: Melayu, Cina, dan India. Bahasa ibu masih akrab di telinga masyarakat sehari-hari karena tidak semua orang Malaysia bisa berbahasa Melayu dan tidak semua orang Malaysia lancar berbahasa Inggris.

Kaum oposisi beranggapan kampanye "1Malaysia" bertujuan melanggengkan status quo generasi rezim pemerintahan dan Anda tahu bahasa yang digunakan media Melayu untuk menyebut kata "oposisi"? "Pembangkang". Dalam bahasa Indonesia, dua kata tersebut memiliki konotasi yang berbeda. Pendeknya, bagi Malaysia persatuan adalah isu penting.

Jauh sebelum AFF Suzuki digelar, Pemerintah Malaysia menyertakan sepakbola dalam kurikulum pendidikan nasional. Sejumlah fasilitas akademis plus sepakbola didirikan di beberapa negara bagian -- terbaru di negara bagian Pahang. Sistem pembinaan pemain muda ini turut ditunjang kebijakan federasi sepakbola setempat (FAM) yang melarang partisipasi pemain asing dalam kompetisi nasional.

Saat turnamen digelar, euforia kebangsaan Malaysia mulai terpantik ketika sukses menumbangkan juara bertahan Vietnam 2-0 pada laga pertama semi-final di Kuala Lumpur. Ketika laga kedua digelar di Hanoi, Perdana Menteri Dato' Sri Mohammad Najib berupaya merangkul generasi muda Malaysia dengan mendatangi langsung arena nonton bareng di kawasan Bukit Bintang. Tanpa ragu PM Najib duduk bersila bersama ratusan penonton lainnya menonton layar lebar sampai pertandingan habis.

Ketika juara, wajar kiranya Pemerintah Malaysia merayakannya dengan meliburkan hari terakhir di tahun 2010 untuk berpesta menyambut gelar pertama mereka di turnamen antarnegara Asia Tenggara itu. Sepakbola dianggap sebagai kebanggaan bersama warga Malaysia. Semua etnis berbaur menjadi satu dalam merayakan keberhasilan tim Harimau Malaya. Malaysia berhak merayakan kemenangannya.

Indonesia menjalani turnamen dengan penuh warna, gagal meski difavoritkan merebut gelar. PSSI bahkan merayakan pencapaian timnas terlalu dini dengan memberikan bonus usai semi-final dan mengajak seisi anggota tim berkeliling luar lapangan sepakbola. PSSI memanfaatkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk mendukung timnas dengan memaksa mereka mengantre tiket berjam-jam. Harga tiket jauh di atas biaya hidup sehari-hari di Jakarta, tapi peminat tetap membludak. Di negara kita, isu nasionalisme malah disetir ke arah kepentingan tertentu.
Kemajuan sepakbola Indonesia seperti terasa semu. Tingginya antusiasme publik tinggi masih dianggap sebagai bukti kebangkitan nasionalisme, padahal itu tak ubahnya wacana belaka. Seperti yang dikatakan seorang penonton ketika turnamen berlangsung, "Mau membela siapa lagi kalau bukan Indonesia, betapapun bobroknya sistem persepakbolaan negara ini."

Masalah mendukung timnas Indonesia itu adalah sebuah kewajaran. Kita tidak pernah bisa menilai kadar nasionalisme seseorang. Misalnya ketika wacana pemain keturunan dan naturalisasi didengungkan, tidak sedikit mencemooh karena menggunakan alasan rasio jumlah penduduk "pribumi" Indonesia dengan anggota skuad timnas. Ataupun ketika Boaz Solossa dicoret karena tak jua bergabung ke pemusatan latihan di Jakarta, orang ramai mempertanyakan nasionalismenya.

Ada yang merasa cukup nasionalis dengan hadir menonton di Senayan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Sesungguhnya tidak kurang nasionalis pula para pembersih sampah yang membersihkan kompleks olahraga Senayan setelah pertandingan digelar.

Wacana nasionalisme yang kerap digunakan cenderung kontraproduktif karena menciptakan sekat-sekat antara yang sama dan yang beda. Hal ini jauh dari cita-cita luhur membentuk masyarakat madani yang memiliki karakter inklusif. Dan sepakbola tidak akan mampu dijadikan takaran mutlak menilai nasionalisme, begitupun sebaliknya.

Duet penulis Simon Kuper dan Stefan Szymanski menyimpulkan, penyelenggaraan turnamen besar seperti Piala Dunia sejatinya tidak bisa diharapkan menghadirkan profit ataupun menciptakan kesadaran baru tentang nasionalisme negaa penyelenggara. Lihat bagaimana Afrika Selatan harus mengeluarkan biaya besar-besaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010, padahal jumlah yang sama bisa dialokasikan untuk menyediakan fasilitas perumahan bagi kaum miskin. Namun, ada faktor yang juga dinilai penting, menyelenggarakan Piala Dunia bisa mendatangkan kebahagiaan.

Masyarakat Indonesia yang berduyun-duyun memadati Senayan di akhir tahun lalu tidak berupaya membuktikan nasionalisme mereka. Namun, mereka sejatinya mencari kebahagiaan di atas lapangan. Mereka bahkan bersedia membeli kebahagiaan itu meski harga tiket melambung memasuki babak-babak penentuan.

Penampilan para pemain timnas Indonesia yang gagah berani sepanjang AFF Suzuki Cup sebenarnya telah mampu membahagiakan masyarakat; tetapi jika dirasa ada sesuatu yang mengganjal kebahagiaan kita menikmati si kulit bulat, pasti ada yang salah dengan otoritas sepakbola negeri ini.

dikutip dari: goal.com (Agung Harsya)

9.11.09

That Hope...


  • Bisa mencintaimu karena ALLOH, seperti aku mencintai keluargaku adalah sebuah anugrah yang teramat besar
Bukan, aku bukan mencari orang yang sempurna.
Aku mencintai segala kelebihanmu dengan harapan bisa menutupi kekuranganku,
Aku mencintai kekuranganmu untuk menyeimbangkan segala kelebihanku demi menghindari rasa angkuhku terhadapNYA,

Berharap Mimpi-mimpi indah itu,
khayalan-khayalan indah yang kita perbincangkan malam itu menjadi kenyataan.
Semoga

"Ya Rabb, ampunilah, kabulkanlah, lancarkanlah semuanya, jadikan rintangan sebagai penguat,
aku mohon dengan sangat, aku mohon dengan sangat. Amin"

'Cause this is real, and this is good.
It warms the inside just like it should,
but most of all it's built to last.

'Cause you are the sun in my universe,
considered the best when we've felt the worst
and most of all it's built to last.

(Melee - Built to Last)

22.10.09

Just To...




Didn't they say that I would make a mistake
Didn't they say you were gonna be trouble
People told me you were too much to take
I could see it, I didn't wanna know
I let you in and you let me down
You messed me up and you turned my life around
Let me feel that I had no where to go
I was alone, how was I too know that..
You'll be there, when I needed somebody
You'll be there, the only one who can help me

I had a picture of you in my mind
never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find
the friend that was there all along.

Who'd believe that after all we've been through
I'd be able to put my trust in you
Goes to show you can't forgive and forget
looking back, I have no regrets cause..

You will be there, when I needed somebody
You will be there, the only one to help me

I had a picture of you in my mind
Never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find
the friend that was there all along

You will be there, when I needed somebody
You will be there, the only one to help me

I had a picture of you in my mind
never knew it could be so wrong
Why'd it take me so long just to find
the friend that was there all along

(Song by Boyzone: Picture of You; Picture taken from deviantart)

12.10.09

nee!!!

Tidak mengurangi bukan berarti harus menambahkan. Hanya ingin menempatkan semua sesuai "porsi"nya.

Saya tidak merubah, juga tidak berubah. Hanya ingin menempatkan semua kembali kepada "garis edarnya" masing-masing.


13.8.09

Media as a Partner in Promoting and Protecting Child’s Rights

In Indonesia, violence against children already be entrenched and carried out from generation to generation. As a result, from year to year, cases of violence against children continues to grow.

Lately, there was a lot of news about violence against children. This fact was very concern and reinforce the perception that violence against children can not be completed, although with the rule of law and legislation.

In addition to the physical violence against children, there are also other forms of violence experienced by children. For example, selling children for commercial purposes. Recently, as mentioned the news in Batam, Police has been successfully aborting of baby selling to Singapore. According to National Committee of Child Protection, currently recorded more than 3,800 children become victims of violence and has been sold to some countries like Malaysia, Philippines and Singapore. One of the trigger factor is economic difficulties faced by the parents.

But, that factor not the only one trigger factor violence against children. Violence against children is closely related to cultural and structural factors in society. From cultural factors, for example, the view that children are property of parents or the view that children should be dutiful to parents, seems to be a tool on the justification of violence against children. When the child is considered negligent, fussy, not docile, and against the will of parents, he will get a penalty or punishment, which can then be turned into violence.

Structural factors occurs because of the unbalance relationship, whether in family or community environment. Here, children are in weaker position, because their position and still depends on the adults in their surrounding areas. Consequently, child discredit and distortion structurally often, whether consciously or not. Therefore, to ensure that child rights has been fulfilled so they able to live, grow, develop optimal participating in accordance with dignity and value of humanity and get protection from violence and discrimination becoming our responsibilities, especially parents.

Paradigm that is children belong to parents, so parents have the right to do anything against children must be immediately changed. Because in principal, child is something that God give to us to be loved, guarded and grew up.

In addition, dexterity of the government in overcoming the economic crisis is expected to help reduce the number of child violence. Because of that, government must make the problems of poverty and the provision of employment as a priority. In Juridical, government has been having the law about child welfare (UU No.4/1979), law about children protection (UU No.23/2002), law about child's court and Keppres No.36/1990 about Ratification Child's Right Convention. Nevertheless, in reality child welfare still far from expectations. Hunger edema until now still felt by children in some of area in Indonesia.

There was another issues of violence against children, whether employed in the worst job or victims of sexual exploitation. International Labor Organization (ILO) estimate, in Indonesia there are 4,201,452 children (aged under 18 years) involved in dangerous jobs, more than 1.5 million of them girls. In fact, the data ILO estimates, there are 2.6 million domestic workers (PRT) in Indonesia and at least 34.83 percent are children. Approximately 93 percent of children are women (Kompas, 2/7/05). Child domestic workers especially women are in vulnerable positions, starts from bad work situation, exploitation, and sexual violence.

In rural areas, poverty, early marriage, lack of education and bad health conditions encouraging children fall into prostitution and human trafficking. Therefore to solve the problems should have a maximum law enforcement. Because, it's possible thing if that facts will be a very complicated issues in the future.

According from the facts above and considering the lack of public awareness, then it's necessary to create a media that can bring all parties about the importance protection of the rights children.

Mass media having an important role for human life, especially in this reformation era. Mass media can be regarded as an effective instrument of power because of it's ability to attract and direct attention, blandish opinions and responses, attitudes affect choices, and provide status and legitimacy as well as defining the shape preception of reality.

Mass media, especially television, is currently developing rapidly. Television having a very strong influence on human life, and it's has been realized when the mass media that began in 1962 appear the middle of community. The impact can be positive and negative, depending on how we manage. The problem is how to be a positive influence, as the functions of spreading information (to inform) and the functions of the education (to educate) can be useful, while the entertaining function (to entertain) and fuction to affect (to influence) lest not to damage the Nation's value system of Indonesia.

In general, television programs affecting the attitudes, point of views, perceptions and feelings of the audience. This is normal, so if there are things that cause the audience moved, stunned it's not something special. Because one of the psychological influences from television is hypnotize audience, so they seems to float in the involvement of the story or the events displayed.

With that reasons, mass media is the right tool for campaigning for protectiong of the rights children. And some action concrete can be done such as: giving counseling to the parents, making community ad. services, and request support from local government so that the Rights of Children protected.
Barito.Ropen
(setelah gua baca ulang, ternyata english gua masih belepetan. Heheheh)
 


5.5.09

What Kind of coffee Are you??

You Are an Espresso


At your best, you are: straight shooting, ambitious, and energetic

At your worst, you are: anxious and high strung

You drink coffee when: anytime you're not sleeping

Your caffeine addiction level: high


*ho oh ni, apalagi nikmatinnya sama musik jazz, beuugghh mangstab. So, what kind of coffee are you? check this one out!!!

2.1.09

Another Unnecessary Ceremony




living in this world is about survival.
Gua ga tau kenapa, tapi gua ngga pernah dapet sense dari tiap pergantian tahun. Bagi gua ini suatu hal yang biasa, ini cuma sebuah siklus yang pasti terjadi, sama halnya kaya hari atau bulan yang bakal berganti.


Gua ngga ada maksud menghujat, menyalahkan siapapun atau nganggep diri gua ini orang yang paling bener. Gua cuman mo ngajak mikir secara realistis ajah. Pantes gak sih kita pesta pora larut dalam euforia yang menurut gua ngga bener-bener penting buat dirayain, sementara mereka yang di Gazza menangis, para korban lumpur Lapindo masih merasakan kehilangan. Huh! bagi gua ini sama aja kaya kita ketawa di atas penderitaan mereka yang notabenenya saudara sebangsa, saudara satu iman.


every seconds, minutes, hours, days, months or years will be changed without a celebrating i think
. Seenggaknya bujet buat perayaan ini bisa dialokasikan ke sesuatu yang lebih bermanfaat. Seorang bijak pernah berkata, "orang yang hebat bukanlah orang yang bisa melakukan segala hal, tapi orang yang bisa melakukan atau menjadikan sesuatu yang bermanfaat".


Kesel? ya gua bener-bener kesel. Ibu gua sakit dan waktu tempuh buat ngejangkau apotik jadi jauh gara-gara perayaan ini "mereka" menutup beberapa jalan, kepadatan jalan ngebuat jalan potong jadi gak berarti. Terbukti ini bener-bener ngga bermanfaat, especially for me.


========


Lebih dari 400 warga sipil Palestina meninggal akibat agresi yang dilakukan zionis Israel. Negara peserta liga arab diam seolah tak ada yang salah dari tindakan Israel, apakah kita harus ikut diam, lalu siapa yang peduli hal kaya gini kalo bukan kita? Bukankah Rasulullah pernah bersabda:

“Orang-orang Muslim itu ibarat satu tubuh; apabila matanya marasa sakit, seluruh tubuh ikut merasa sakit; jika kepalanya merasa sakit, seluruh tubuh ikut pula merasakan sakit.” (HR Muslim)


Ya, for me living in this world is about survival, to survive everyday by doing best effort to face another day tomorrow for a better life
. And "they" trying to survive from that crazy war. (the_jitoh)
"the smell of gas suffocates us to death!

how am i supposed to enjoy all of my belongings. How?

Enjoy our things with that (genocide)?"

(Little girl in Palestina on Youtube)

16.11.08

13 Phrases for live ^^;

  1. I love you not for whom you are, but who I am when I'm by your side.
  2. No person deserves your tears, and who deserves them won't make you cry.
  3. Just because someone doesn't love you as you wish, it doesn't mean you're not loved with all his/her being.
  4. A true friend is the one who holds your hand and touches your heart.
  5. The worst way to miss someone is to be seated by his/her side and know you'll never have him/her.
  6. Never stop smiling, not even when you’re sad, someone might fall in love with your smile.
  7. You may only be a person in this world, but for someone, you’re the world.
  8. Don’t spend time with someone who doesn’t care spending it with you.
  9. Maybe God wants you to meet many wrong people before you meet the right one, so when this happens, you’ll be thankfull.
  10. Don’t cry because it came to an end. Smile because it happened.
  11. There will always be people who’ll hurt you, so you need to continue trusting, just be carefull.
  12. Become a better person and be sure to know who you are before meeting someone new and hoping that person knows who you are.
  13. Don’t struggle so much, best things happen when not expected.

-=GABRIEL GARCÍA MÁRQUEZ=-

12.11.08

T.E.N

10 November 1945, perang di Surabaya pecah. Kemudian diperingati sebagai hari pahlawan

10 Mei 1959, seorang manusia bernama Yulian Effendi Kartibi lahir. Mungkin bagi kalian dia hanya manusia biasa, tapi bagiku dia adalah pahlawan. Ya, seorang pahlawan yang mengajariku bahwa keberanian bukan hanya sebuah teori belaka, bahwa kejujuran merupakan nama tengah dari setiap manusia, dan memberiku pemahaman tentang arti hidup yang sebenarnya.

10 September 2007, "mereka" bilang beliau sudah pergi, tapi bagiku TIDAK! Karena pergi berarti meninggalkan, dan itu hanya untuk seorang pengecut. Yang kutahu hanyalah dia memberiku kesempatan untuk belajar lebih arti dari sebuah TANGGUNG JAWAB.

10 November 2008, tanggal ini masih diperingati sebagai hari pahlawan sampai detik ini. Dan dia masih tetap pahlawan bagiku, sampai kapanpun.

Ini bukan ratapan, sama sekali bukan. Hanya pelampiasan rasa rinduku.

Jakarta 10 Nevember 2008

Djitoh


5.11.08

maafkan kata yang tlah terucap
akan kuhapus jika ku mampu
andai ku dapat meyakinkanmu
ku hapus hitamku untukmu
(hitamku - andra and the backbone)

Es tut mir leid, Fraulëin. Please, give me another chance...

7.10.08

Football Club Chelsea History

Chelsea Football Club (also known as The Blues or previously The Pensioners) are an English professional football club based in west London. Founded in 1905, they play in the Premier League and have spent most of their history in the top tier in English football. They have had two broad periods of success, one during the 1960s and early 1970s, and the second from the late 1990s to the present day. Chelsea have won three league titles, four FA Cups, four League Cups and two UEFA Cup Winners' Cups.[2]

Chelsea's home is the 42,055 capacity[1] Stamford Bridge football stadium in Fulham, West London, where they have played since their foundation. Despite their name, the club are based just outside the Royal Borough of Kensington and Chelsea, in the London Borough of Hammersmith and Fulham. In 2003, the club was bought by Russian oil tycoon Roman Abramovich.[3]

The club's traditional kit colours are royal blue shirts and shorts with white socks. Their traditional crest is a ceremonial blue lion holding a staff; a modified version of this was adopted in 2005.[4] Chelsea are one of the best-supported clubs in the United Kingdom, with an estimated four million fans.[5]

History

March 14, 1905 at The Rising Sun pub (now The Butcher's Hook), opposite the present-day main entrance to the ground on Fulham Road, and were elected to the Football League shortly afterwards. The club's early years saw little success; the closest they came to winning a major trophy was reaching the FA Cup final in 1915, where they lost to Sheffield United. Chelsea gained a reputation for signing big-name players[6] and for being entertainers, but made little impact on the English game in the inter-war years.

Former England centre-forward Ted Drake became manager in 1952 and proceeded to modernise the club. He removed the club's Chelsea pensioner crest, improved the youth set-up and training regime, rebuilt the side, and led Chelsea to their first major trophy success – the League championship – in 1954–55. The following season saw UEFA create the European Champions' Cup, but after objections from The Football League and the FA Chelsea were persuaded to withdraw from the competition before it started.[7]

The 1960s saw the emergence of a talented young Chelsea side under manager Tommy Docherty. They challenged for honours throughout the decade, and endured several near-misses. They were on course for a treble of League, FA Cup and League Cup going into the final stages of the 1964–65 season, winning the League Cup but faltering late on in the other two.[8] In three seasons the side were beaten in three major semi-finals and were FA Cup runners-up. In 1970 Chelsea were FA Cup winners, beating Leeds United 2–1 in a final replay. Chelsea took their first European honour, a UEFA Cup Winners' Cup triumph, the following year, with another replayed win, this time over Real Madrid in Athens.

The late 1970s and the 1980s were a turbulent period for Chelsea. An ambitious redevelopment of Stamford Bridge threatened the financial stability of the club,[9] star players were sold and the team were relegated. Further problems were caused by a notorious hooligan element among the support, which was to plague the club throughout the decade.[10] Chelsea were, at the nadir of their fortunes, acquired by Ken Bates for the nominal sum of £1, although by now the Stamford Bridge freehold had been sold to property developers, meaning the club faced losing their home.[11] On the pitch, the team had fared little better, coming close to relegation to the Third Division for the first time, but in 1983 manager John Neal put together an impressive new team for minimal outlay. Chelsea won the Second Division title in 1983–84 and established themselves in the top division, before being relegated again in 1988. The club bounced back immediately by winning the Second Division championship in 1988–89.

After a long-running legal battle, Bates reunited the stadium freehold with the club in 1992 by doing a deal with the banks of the property developers, who had been bankrupted by a market crash.[12] Chelsea's form in the new Premier League was unconvincing, although they did reach the FA Cup final in 1994. It was not until the appointment of former European Footballer of the Year Ruud Gullit as player-manager in 1996 that their fortunes changed. He added several top-class international players to the side, particularly Gianfranco Zola, as the club won the FA Cup in 1997 and established themselves as one of England's top sides again. Gullit was replaced by Gianluca Vialli, who led the team to victory in the League Cup and the Cup Winners' Cup in 1998, the FA Cup in 2000 and the UEFA Champions League quarter-finals in 2000. Vialli was sacked in favour of another Italian, Claudio Ranieri, who guided Chelsea to the 2002 FA Cup final and Champions League qualification in 2002–03.

In June 2003, Bates sold Chelsea to Russian billionaire Roman Abramovich for £140 million, completing what was then the biggest-ever sale of an English football club.[3] Owing to Abramovich's Russian heritage, the club were soon popularly dubbed "Chelski" in the British media.[13] Over £100 million was spent on new players, but Ranieri was unable to deliver any trophies, so he was replaced by successful Portuguese coach José Mourinho, who had just guided FC Porto to victory in the UEFA Champions League.

In 2005, Chelsea's centenary year, the club became Premiership champions in a record-breaking season (most clean sheets, fewest goals conceded, most victories, most points earned),[14] League Cup winners with a 3–2 win over Liverpool at the Millennium Stadium and reached the Champions League semi-finals. The following year, they were again League Champions, equalling their own Premiership record of 29 wins set the previous season. They also became the fifth team to win back-to-back championships since the Second World War and the first London club to do so since Arsenal in 1933–34.[15] In 2007 Chelsea won the League Cup for the second time in three years,[16] and finished 2nd in the Premier League. To end the season, Chelsea beat Manchester United 1-0 in the FA Cup final, the first at the new Wembley Stadium.[17] On 20 September 2007, manager José Mourinho parted company with Chelsea by mutual consent.[18] He was replaced by Director of football Avram Grant.[19]

3.10.08

Did you know.. ?

  • "... bahwa komunikasi di lingkungan komunitas anjing prairie, yang sama sekali bukan anjing, melainkan tergolong keluarga tikus, sangat penting untuk pertahanan mereka? Seekor di antara mereka ditugasi sebagai penjaga, dan bila ia melihat pemangsa datang, ia akan mengeluarkan seruan peringatan, yang akan segera membuat teman-temannya menyelamatkan bayi-bayi mereka, lalu bergegas berlindung di liang-liang mereka."
  • "... bahwa dalam pertandingan catur antara Jon Gardar Vidarsson dengan Johann Hjartarson di Islandia pada 1994, mereka membukanya dengan langkah 1.e4 e5 dan pion-pion itu tetap di tempat hingga mereka sepakat untuk seri setelah langkah ke-180?"
  • "... bahwa di Rusia, hot dog Amerika sangat disukai? Orang Rusia memakannya untuk makan siang, malam, bahkan juga untuk sarapan. Sosis sering dipotong memanjang, digoreng dengan mentega lalu disajikan dengan roti, keju, dan ikan asap. Pada 1996 Rusia mengimpor produk daging olahan Amerika senilai hampir $76 juta."
  • "... bahwa dulu di Eropa, sepak bola merupakan permainan para penjahit di Yunani, yang menggunakan kandung kemih babi dan diisi dengan udara?"
  • "... bahwa planet Saturnus adalah planet dengan massa jenis terkecil di antara 8 planet di tata surya ini?"
taken from wikipedia

29.9.08

Mata Hati Telinga

Satu cerita tentang manusia
Coba ‘tuk memahami arti cinta
Benarkah cinta diatas segalanya
Hanyakah itu satu-satunya

Yang menjadi alasan untuk menutup mata
Tak melihat dunia yang sesungguhnya
Dan menjadi jawaban atas semua tanya
Yang kita harap mampu mewujudkan sebuah akhir bahagia

Reff:
Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta ooo..
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga

Adakah kau rasakan kadang hati dan fikiran
Tak selalu sejalan seperti yang kau harapkan
Tuhan tolong tunjukkan apa yang ‘kan datang
Hikmah dari semua misteri yang tak terpecahkan

Back to Reff: 2x

Buka mata hati telinga
Buka mata hati telinga
Coba kau buka mata hati telinga
Mata hati telinga

(another song form Maliq n d'essential, liriknya ngena banget)

------=====------

20.9.08

Tetes-tetes air turun di awal Ramadhan,
menjelma sebagai embun penyejuk bagi hamba-hambaNya,
bukan sebagai pembawa peluh yang datang menguji,
Amin yaa Rabb..


*djitoh dan segenap kru blog, mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon maaf atas semua khilaf*

8.8.08

Self Contemplation

Sudah berapa lama kita hidup namun sudah berapa lama kita sadar kalau ibadah yang kita lakukan karena satu dan banyak hal, bukan sebagai wujud murni dari suatu kepatuhan seorang hamba kepada Sang Pencipta.

Musibah, bencana, keinginan dan harapan membuat kita begitu dekat denganNya. Namun ketika kesulitan hilang dan harapan terwujud, akankah aktivitas itu tetap ada. Ibadah yang tak pernah lepas dan munajat yang tak pernah henti.

Ibadah yang dijalani hanya berorientasi pada harapan untuk menghuni indahnya surga tanpa mengenal neraka, tidak salah memang. Namun cukup egois.

Seandainya setelah kematian tidak ada kehidupan (pembalasan), atau seaindainya para hamba yang patuh ditempatkan di neraka. Masihkah kita ingat terhadapNya, Dzat yang tak pernah sedetikpun lupa memberi nafas hingga tiba waktunya.

Semakin sadar, semakin kita mencoba untuk menghindar dari sebuah kepasrahan akan ketetapanNya. Menolak akan semua hal terburuk yang kita dapatkan, meskipun itu yang terbaik menurutNya.

*Bukan berkhutbah, hanya bermaksud untuk berbenah diri*

11.7.08

Kemarin, hari ini, dan esok

Hari ini adalah hari esok yang kucemaskan kemarin
Dan hari ini cerah sekali
Hingga aku bertanya-tanya mengapa aku mencemaskan hari ini kemarin
Maka hari ini aku tidak akan mencemaskan esok
Lagi pula, mungkin tidak akan ada esok
Maka hari ini aku akan hidup seolah esok tak ada
Dan aku akan melupakan kemarin

Hari ini adalah hari esok yang kurencanakan kemarin
Dan hampir semua rencanaku untuk hari ini tidak berjalan seperti yang kukira kemarin
Maka hari ini aku akan melupakan esok dan aku akan merencanakan hari ini
Tetapi tidak terlalu habis-habisan
Hari ini aku akan berhenti untuk mencium sekuntuk mawar
Aku akan mengatakan kepada orang yang kucintai betapa aku mencintainya
Aku akan berhenti merencanakan esok dan bencana untuk menjadikan hari ini hari terbaik dalam hidupku

Hari ini adalah hari esok yang kutakutkan kemarin
Dan hari ini ternyata tidak ada yang harus ditakutkan
Maka hari ini akan kuenyahkan rasa takut akan hal-hal yang tak kuketahui
Aku akan merangkul yang tak kuketahui itu sebagai pengalaman belajar yang penuh dengan kesempatan seru
Hari ini, tidak seperti kemarin, aku tidak akan menakutkan esok

Hari ini adalah hari esok yang kuimpikan kemarin
Dan sebagian mimpi yang kuimpikan kemarin jadi kenyataaan hari ini
Maka hari ini aku akan terus memimpikan esok
Dan mungkin lebih banyak lagi mimpi yang kuimpikan hari ini akan jadi kenyataan esok.


-Anonim, taken from Satu Tiket ke Surga, written by Zabrina A. Bakar-

25.6.08

Sajak-sajak Kecil tentang Cinta - Sapardi Djoko Damono

mencintai angin harus menjadi siut,
mencintai air harus menjadi ricik,
mencintai gunung harus menjadi terjal,
mencintai api harus menjadi jilat,
mencintai cakrawala harus menebas jarak,
mencintaimu harus menjelma menjadi aku.

“Hujan Bulan Juni”
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu,

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu,

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu.

DI RESTORAN

Kita berdua saja, duduk.
Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput, kau entah memesan apa.
Aku memesanbatu di tengah sungai terjal yang deras, kau entah memesan apa.
Tapi kita berdua saja, duduk.
Aku memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

AT THE RESTAURANT
It was just the two of us, sitting.
I ordered waving grasses and wild flowers, I don't know what you ordered.
I ordered stones on a bed of swirling rapids, I don't know what you ordered.
But it was just the two of us, sitting.
I ordered pitiless and piercing painthen ordered,
as well, that alien hunger.
--====--
*Untuk diri, that feel something different, they called it's LOVE

24.6.08

Keluhan bukan sebuah jawaban,
pujian hanya akan menjatuhkan,

kesombongan akan membunuhmu.
(The_jitoh)

21.6.08

^_^;

Johnny: "Hai, Yah, tahukah kalau Ayah adalah seorang ayah yang beruntung?"

Ayah : "Kok bisa, Nak?"

Johnny: "Ayah tidak perlu membelikan buku baru buatku tahun ini. Aku tidak naik kelas."


================

Happy holiday...